Penulis : Riska Tri Wulandari

Telah kita ketahui bahwa Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan atau OECD  merilis hasil Program Penilaian Siswa Internasional biasa disingkat PISA 2018 di Paris, Selasa, 3 Desember 2019. Skor kemampuan siswa Indonesia dalam membaca 371, jauh di bawah rata-rata OECD yakni 487. Untuk skor  matematika yakni 379, sedangkan skor rata-rata OECD 487. Untuk sains skor siswa Indonesia yakni 389, jauh di bawah skor rata-rata OECD yakni 489. Siswa Indonesia yang menguasai kemampuan matematika tingkat tinggi (tingkat lima ke atas) hanya satu persen, sedangkan rata-rata OECD sebanyak 11 persen. Hal ini menjadi perhatian bersama untuk mengelola sistem pendidikan Indonesia agar lebih baik kedepannya. Karena pendidikan yg terorganisir dengan baiklah yang akan menunjukkan perubahan signifikan. Selayaknya matematika yang memiliki segudang manfaat salah satunya melatih untuk berpikir sistematis dalam menyelesaikan masalah. Lalu kenapa masalah pendidikan di Indonesia dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, sebenarnya apa yang salah dengan sistem pendidikan kita? ataukah mungkin saja mindset kita yang belum tepat dalam memahami keadaan ini.

            Matematika dibangun dari banyaknya fenomena alam di muka bumi, yang kemudian membuat para ilmuwan mencari solusi terbaik untuk meringankan aktivitas manusia, hingga sekarang kita rasakan. Maka dari itu, yg terpenting adalah growth mindset yang perlu dibangun terutama dalam memandang matematika bukan sebagai ancaman tapi tantangan. Namun, kita semua mengetahui bahwa sebagian besar orang masih memandang matematika sebagai ‘virus’ yang perlu dihindari. Akhirnya mindset terhadap matematika ini mengakar dari generasi ke generasi. Meninggalkan jejak-jejak kebencian bahkan sebelum mengenal matematika itu sendiri. Lalu, bagaimana mengembalikan mindset yang tidak tepat ini? Sema pihak tentunya perlu meluruskan mindset terhadap matematika dan berusaha menciptakan lingkungan yang tepat bagi generasi muda untuk berusaha mengeksplore  matematika dengan baik. Itulah growth mindset yang perlu dibangun. Sehingga matematika tidak dianggap ilmu hitung semata tetapi sebagai ilmu yang punya kebermanfaatan menyeluruh ke segala aspek kehidupan.

            Adapun kebermanfaatan dalam mempelajari matematika yang jarang sekali disadari antara lain: melatih ketelitian, kesabaran, berpikir kritis dan sistematis, membantu aktivitas sehari-hari dan lain sebagainya. Peran guru dan orang tua memang sangat dibutuhkan untuk menciptakan suasana kondusif yang menunjang generasi muda belajar matematika. Sehingga, growth mindset akan mudah ditanamkan kepada generasi muda dalam belajar matematika. Growth mindset sendiri merupakan sikap untuk terus berkembang dan justru menjadikan setiap kegagalan sebagai pembelajaran. Dalam sebuah riset yang dilakukan profesor stanford kepada anak kelas 7 SMP membuktikan bahwa anak yang memilki sikap growth mindset cenderung mendapatkan nilai yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Dari penelitian tersebut kita dapat melihat bahwa orang dengan growth mindset akan memandang belajar matematika bukan hal yang menakutkan namun justru menjadi tantangan tersendiri. Growth mindset mampu mengubah sudut pandang seseorang saat mempelajari matematika dan menumbuhkan sikap pantang menyerah. Sehingga kebermanfaatan matematika akan dapat dirasakan baik itu yang nampak maupun yang tersirat.

Kategori: Granada