Penulis : Riska Tri Wulandari

Perspektif pembelajaran matematika di sekolah masih terkesan kaku dan punya karakter seperti film thriller. Ditambah dengan karakter guru matematika sebagai aktor utama di kelas menambah kesan bahwa matematika memang dikhususkan bagi orang-orang tertentu. Kesan eksklusif inilah menjadikan siswa semakin tidak nyaman ketika belajar matematika. Paradigma ini mengakar kuat bahkan sejak penulis masih dibangku sekolah. Lucunya, saat penulis menginjakkan bangku kuliah di matematika, persepsi ini semakin kokoh saat melihat bagaimana situasi pembelajaran matematika di kampus. Sehingga tahun-tahun awal saat mengajar di sekolah, cara mengajar penulispun secara tidak sadar menerapkan sebagaimana persepsi terhadap guru matematika yg terbangun dalam benak penulis. Namun, penulis menyadari bahwa paradigma seperti ini tidaklah sehat untuk ke depannya. Jangankan membangun karakter saat pembelajaran matematika, membuat murid nyaman di kelas saat belajar saja sudah menjadi tantangan tersendiri. Berdasarkan pengalaman pribadi inilah yang menjadikan penulis ingin berusaha mengubah paradigma ini. Proses mengubah mindset ini tidaklah mudah, karena sikap skeptis siswa bahkan hanya dengan mendengar kata matematika sudah menjadi tren tersendiri. Penulis akhirnya mencoba mencari literatur, diskusi dengan orang yang dirasa mampu memberikan inspirasi dan terus melakukan trial and error di kelas dengan mencoba berbagai macam metode untuk membuat siswa nyaman saat belajar matematika. Karena sekedar transfer ilmu matematika tidaklah cukup, yang terpenting adalah sikap siswa setelah belajar matematika. Apakah semakin baik atau sebaliknya?. Hal ini sangat jarang menjadi pembahasan bahkan saat pertemuan MGMP guru matematika. Suatu ketika penulis pernah mencoba mengaitkan matematika dengan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, sejarah kontribusi ilmuwan muslim dalam matematika serta mengaitkan matematika dengan kehidupan remaja sekarang. Penulis pun juga berusaha berbaur dengan siswa saat pembelajaran dengan candaan yang membangun, dan bersama siswa mencoba merefleksikan makna tersirat pembelajaran matematika dengan harapan sedikit demi sedikit akhlak siswa mampu terbentuk walau hanya 1%. Berbicara bagaimana hasilnya, penulis berusaha berpikir optimis terhadap setiap proses yang dilalui. Sedikit demi sedikit, ada perubahan yang terlihat setidaknya saat penulis masuk kelas untuk mengajar, sikap skeptis siswa perlahan memudar. Bahkan perlahan beberapa murid menunjukkan ketertarikan terhadap matematika. Penulis menyadari masih banyak hal yang perlu ditingkatkan. Cara tersebut bukanlah solusi terbaik untuk membentuk karakter siswa dalam proses pembelajaran matematika. Namun setidaknya penulis berharap hal itu bisa menjadi salah satu alasan bahwa pembelajaran matematika punya andil yang kuat dalam membentuk karakter siswa di masa depan. Menurut pandangan penulis sendiri, kunci utama dalam pembentukan karakter pada proses pembelajaran matematika adalah guru itu sendiri. Karakter siswa akan terbentuk dengan sendirinya ketika karakter seorang guru matematika terbentuk dengan baik. Guru yang mampu menunjukkan passion terhadap matematika dan menularkan semangat belajar kepada siswalah yang disebut guru pembelajar sejati.

Wallahualam

Penulis

Riska Tri Wulandari

Categories: Granada