PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA GOOGLE CLASSROOM PADA MATERI GERAK UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI PESERTA DIDIK KELAS X IPA B SMA IT GRANADA

disusun oleh Recha Ammassa Ramadhani

ABSTRAK

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang penelitian ini bertujuan untuk peningkatan keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik kelas X IPA B SMA IT Granada Samarinda mengunakan model Project Based Learning berbantuan media  Google Classroom pada materi Gerak. Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas X IPA B SMA IT Granada Samarinda yang berjumlah 27 orang. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus terdiri dari empat komponen yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Siklus I dan siklus II masing-masing dilaksanakan selama 2 kali pertemuan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, evaluasi dan tes setiap akhir siklus pengajaran; menganalisis data melalui hasil analisis kuantitatif dan kualitatif. Penerapan model siklus belajar dilakukan dengan cara pertama menggali pengetahuan awal peserta didik dengan mengajukan beberapa pertanyaan menggunakan Google Classroom, kemudian membagi peserta didik mejadi 6 kelompok. Setelah itu, peserta didik melakukan semua tahapan yang terdapat dalam  model Project Based Learning, mulai dari menggali konsep melalui pertanyaan mendasar, membuat desain proyek alat peraga sederhana, membuat jadwal pembuatan proyek, melakukan proses monitoring bersama guru melalui Google Classroom, melakukan uji hasil proyek, dan yang terakhir melakukan evaluasi terhadap proyek alat peraga sederhana yang telah dibuat. Setelah melakukan semua tahapan model Project Based Learning pada siklus satu, hasil evaluasi yang didapatkan oleh peneliti belum maksimal, karena tingkat ketuntasan hasil belajar peserta didik masih 33% dan rata-rata ketercapaian indikator HOTS masih di bawah 80%, sehingga peneliti melakukan siklus II.  Pada siklus II hasil belajar peserta didik sudah meningkat, ketuntasan kelas 85% dan rata-rata ketercapaian indikator HOTS 95% sehingga penelitian untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik telah berhasil dilakukan pada siklus II.

Latar Belakang

SMA Islam Terpadu Granada Samarinda. SMAI IT Granada terletak di jalan HM. Ardhan KM 03. Kec Samarinda Ulu kel Bukit Pinang. Sekolah kami terletak di dataran tinggi dan hutan yang lebat mengelilinginya. Itulah yang membuat kadar oksigen yang baik dsini dan lingkungan yang tenang dalam belajar di SMA IT Granada. Secara umum SMA IT Granada memiliki potensi yang begitu besar baik. Dari segi letak geografisnya Samarinda merupakan Ibu Kota Kalimantan Timur dengan fasilitas pembelajaran yang cukup lengkap mulai dari Perpustakaan kota dan Provinsi, akses internet yang lancar, lembaga-lembaga pendidikan ternama baik dari SD hingga Universitas berakreditasi A, dan sumber-sumber belajar lainnya. Dari segi potensi internal para peserta didiknya dirasa berasal dari latar belakang orang tua yang cukup mapan dari segi materil. Hal tersebut membuat peserta didik cukup mudah mengakses segala bentuk apa yang diinginkan termasuk dalam hal fasilitas pembelajaran. Dalam setiap lembaga pendidikan pasti ditemui beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran, termasuk di SMA IT Granada Samarinda. Beberapa masalah yang guru temui sebagai pelaksana praktik baik ini adalah rendahnya keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik, kurang maksimalnya pemanfaatan teknologi informasi yang digunakan saat pembelajaran, penggunaan model pembelajaran yang masih konvensional  dan tidak variatif. Praktik ini penting untuk dilaksanakan dan dibagikan karena model   Project Based Learning   adalah   model pembelajaran  dengan  pendekatan konstruktivisme. Dalam pembelajaran ini, peserta didik membangun   pengetahuan   sendiri berdasarkan pemahaman dan pengalamannya.    Pendekatan    ini sangat   cocok   diterapkan   untuk memberikan pengalaman langsung kepada   peserta didik   tentang   apa   yang dipelajarinya. Sehingga, penerapan pembelajaran dengan model ini juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Pembelajaran ini juga akan semakin efektif jika guru memanfaatkan teknologi informasi. Peran : Kepala sekolah sebagai penanggung jawabGuru sebagai subjek praktik baikPeserta didik sebagai objek praktik

Tantangan

Tantangan yang saya hadapi  adalah :
1.    Kondisi kelas yang tidak termotivasi serta kurang aktifnya peserta didik.
2.    Rendahnya keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik.
3.    Menentukan model pembelajaran inovatif yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan kondisi kelas
4.    Kemampuan guru dalam merencanakan dan menerapkan model pembelajaran.
 
Pihak yang terlibat dalam praktik ini :
1.    Pelaksana praktik baik yaitu guru
2.    Kepala Sekolah
3.    Teman sejawat
4.    Peserta didik kelas X IPA B SMA IT Granada
5.    Dosen pembimbing
6.    Guru Pamong
7.    Teman mahasiswa PPG

Langkah – Langkah :
1.      Melakukan diskusi di tingkat kelompok belajar bersama rekan rekan guru, peserta PPG , Dosen dan guru pamong untuk menemukan solusi permasalahan. Dalam diskusi tersebut saya dan teman teman diarahkan untuk memfokuskan titik pemecahan permasalahan yang berbasis pada guru.
2.   Berdasarkan hasil diskusi tersebut, saya kemudian memutuskan untuk mencoba meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning).
3.      Merencanakan tindak lanjut berupa menyusun RPP dan instrumen-instrumen.
4.      Menyiapkan bahan materi pembelajaran serta lembar aktivitas.
5.      Menyiapkan alat dan bahan untuk kegiatan pembelajaran: proyektor, gawai dan laptop.
Melaksanakan kegiatan pembelajaran/praktik baik
6.      Mengevaluasi hasil praktik baik.
 
Strategi yang digunakan dalam praktik baik ini adalah :
1.    Menggunakan model pembelajaran Project Based Learning
2.    Memilih media pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran
3.    Membuat perangkat pembelajaran yang menarik untuk peserta didik, seperti Bahan Ajar, LKPD, media pembelajaran (presentasi interaktif dan video-video tentang masalah yang akan diselesaikan).
 
Proses Kegiatan dalam praktik baik ini adalah  :
1.    Pada kegiatan ini saya memilih materi Gerak Parabola dengan sub materi jangkauan terjauh.
2.    Pada kegiatan pendahuluan peserta didik disampaikan tujuan pembelajaran dan evaluasi apa saja dalam pembelajaran tersebut.
3.    Pada kegiatan inti guru memberikan pertanyaan mendasar yang berkaitan dengan alat peraga sederhana yang akan dibuat dalam proyek ini.
4. Selanjutnya peserta didik dibentuk kelompok dan berdiskusi untuk menyusun desain proyek alat peraga yang akan dibuat kemudian dilanjutkan dengan menyusun jadwal pelaksanaan proyek
5.    Guru memonitoring dan membimbing peserta didik dalam pengerjaannya baik secara langsung maupun secara daring melalui Google Classroom.
6.    Peserta didik melakukan uji hasil alat peraga sederhana untuk mengukur jarak terjauh pada gerak parabola yang telah dibuat.
7.    Peserta didik bersama sama guru mengevaluasi hasil alat peraga yang telah dibuat.
8.    Terakhir pembelajaran ditutup dengan merefleksikan seluruh kegiatan pembelajaran hari itu.

Sumber daya dan materi yang digunakan dalam praktik baik ini adalah :
1.    Fasilitas sekolah diantaranya ruang kelas, listrik, jaringan dan proyektor.
2.    Materi Pembelajaran berupa Bahan Ajar, Lembar Kegiatan Peserta Didik dan presentasi interaktif.
Fasilitas peserta didik berupa Handphone dan Laptop.

Refleksi Hasil
Dampak dari aksi dan langkah-langkah yang telah dilakukan :
1.    Peserta didik sebagian besar lebih aktif dari biasanya. Peserta didik memberikan komentar, bertanya jawab, memberikan tambahan pendapat, berdiskusi aktif dalam kelompok, saling bekerja sama baik saat pembuatan proyek maupun uji hasil, memberikan apresiasi dan menunjukan antusias dalam pembelajaran.
2.    Guru cenderung berperan sebagai fasilitator karena dalam pembelajaran yang terlibat aktif mengksplorasi materi dan masalah adalah peserta didik dalam kelompok.
3.    Peserta didik dan guru menjadi terbiasa menggunakan teknologi informasi.
4.    Keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik meningkat karena stimulus yang telah diberikan oleh guru.
 
Hasil aksi yang dilakukan efektif karena :
1.      Peserta didik mampu merancang, membuat, dan menguji alat peraga sederhana untuk mengukur besaran fisika yang telah ditentukan.
2.      Meningkatnya nilai pengetahuan peserta didik. Pada saat pretest (pertemuan pertama) rata-rata nilai pengetahuan peserta didik 65 dengan persentase ketuntasan 44% meningkat pada saat post-test (pertemuan kedua) rata-rata nilai pengetahuan peserta didik menjadi 93 dengan persentase ketuntasan 85%.
3. Tingginya persentase ketercapaian indikator HOTS berdasarkan survei peserta didik dan observasi teman sejawat.

Respon peserta didik sangat baik dapat dilihat dari hasil survei peserta didik, dengan skor rata-rata 136,5 dari 140, atau jika dipersentasekan 98% dari skor maksimum.
Respon orang lain juga sangat baik berdasarkan hasil observasi teman sejawat, dengan skor rata-rata 104 dari 108, atau jika dipersentasekan 96% dari skor maksimum.
Begitu pula respon Dosen Pembimbing, Guru Pamong dan teman-teman Mahasiswasaat refleksi aksi juga baik.
 
Faktor yang  menjadi keberhasilan dari strategi yang saya lakukan :
1.    Sumber daya sekolah yang baik dari ruang kelas, jaringan yang baik, dan peralatan pendukung lainnya yang tersedia di sekolah.
2.    Dukungan dari pihak terkait, mulai dari Kepala Sekolah, Teman Sejawat, Dosen Pembimbing, Guru Pamong, teman-teman Mahasiswa PPG, serta Peserta Didik.
3.    Kemampuan penggunaan teknologi informasi guru dan peserta didik.
4.    Langkah-langkah dari aksi yang telah direncanakan sangat sesuai dengan karakteristik peserta didik.
 
Pembelajaran dari keseluruhan proses yang telah dilakukan :
1.    Penggunaaan  model pembelajaran Project Based Learning dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta didik, karena selain peserta didik dapat merancang dan membuat alat peraganya sendiri, mereka juga dapat lebih memahami konsep materi fisika terkait serta menyelesaikan evaluasi pengetahuan dengan baik.
2. Peserta aktif dan menunjukkan sikap positif saat proses pembelajaran, karena pembelajaran berorientasi kepada peserta didik, guru hanya menjadi fasilitator.
3.    Manfaat yang didapatkan dari keseluruhan proses praktik baik ini akan dapat akan dapat dirasakan secara berkelanjutan (tidak sesaat) jika guru konsisten melaksanakan praktik baik ini.



Daftar Pustaka

Desiriah, E., & Setyarsih, W. (2021). Tinjauan literatur pengembangan instrumen penilaian kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) fisika di sma. ORBITA: Jurnal Kajian, Inovasi Dan Aplikasi Pendidikan Fisika, 7(1), 79-89.
Rosmiati, R., Musdar, M., & Nurlina, N. (2022). PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING BERBANTUAN SIMULASI PhET UNTUK MENINGKATKAN HIGH ORDER THINKING SKILLS (HOTS) FISIKA DI SMA NEGERI 1 WONOMULYO. PHYDAGOGIC: Jurnal Fisika dan Pembelajarannya4(2), 107-115.
Susilowati, Y., & Sumaji, S. (2021). Interseksi Berpikir Kritis Dengan High Order Thinking Skill (Hots) Berdasarkan Taksonomi Bloom. JURNAL SILOGISME: Kajian Ilmu Matematika dan Pembelajarannya, 5(2), 62-71.
Widianingrum, R., & Sukardiyono, S. (2021). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model Online-Project Based Learning untuk Meningkatkan HOTS Fisika Peserta Didik SMA. Jurnal Pendidikan Fisika8(1).

Categories: Granada