Penulis : Agus Salim Razak


Abstrak
Dalam keterampilan berbicara di era keterbukaan ini keterampilan ini sungguh menjadi
modal dasar dalam pergaulan, terutama dalam keterampilan berbahasa Inggris. bahasa Inggris
digunakan dalam berbagai realita kehidupan baik itu berkomunikasi dengan mitra bisnis dan
dalam pergaulan. Ini bertujuan mendorong generasi muda agar dapat berkembang dan
mendapatkan kualitas SDM yang siap menjadi penopang dan penerus bangsa. Sumbersumber
belajar di era globalisasi ini pun cukup beragam. Dengan laju informasi seorang
pelajar harus menguasai litratur-literatur dari luar agar tidak tertinggal informasi.
Pemerolehan bahasa kedua biasa pula dikatakan sebagai pemerolehan bahasa yang
berlangsung dalam otak manusia ketika dia memperoleh bahasa ibunya. Responden pada
penelitian ini adalah 4 orang siswa SMA IT Granada Samarinda. Sampel dalam penelitian ini adalah
berjumlah 4 orang yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan yang berumur antara 15-16
tahun. Terdapat perbedaan signifikan dalam pemerolehan dan penguasaan pembelajaran
bahasa Inggris di SMA IT Granada antara gender laki-laki dan perempuan. Laki-laki
cenderung mengutarakan perasaannya dengan singkat dan cenderung tidak stabil .Berbeda
dengan gender perempuan, dalam mengikuti pembelajaran gender perempuan cenderung
senang mengikuti pembelajaran itu dilihat dari kelugasan saat menjawab bagaimana perasaan
saat mengikuti pembelajaran (asyik dan menyenangkan).


A. Pendahuluan
Bahasa merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap individu. Ia
merupakan salah satu satu kemampuan manusia yang digunakan sebagai alat berkomunikasi
dengan satu dan lainnya sebagai ciri makhluk sosial. Bahasa digunakan dalam banyak hal,
untuk bersosialisasi, bernegosiasi, berkomunikasi dalam hal apapun di kesaharian. Itulah
mengapa kemampuan berbahasa merupakan hal yang mendasar dan penting sekali dimiliki
oleh manusia.
Belajar berbahasa merupakan sesuatu yang kompleks melibatkan banyak faktor baik
dari internal dan eksternal. Manusia sendiri adalah makhluk yang kompleks. Dalam
pembelajaran bahasa manusia melakukan berbagai macam aktifitas dalam ranah kognitif,
sikap, psikologi baik dalam ketrampilan menyimak, membaca, menulis dan berbicara.
Dalam keterampilan berbicara di era keterbukaan ini keterampilan ini sungguh
menjadi modal dasar dalam pergaulan, terutama dalam keterampilan berbahasa Inggris.
bahasa Inggris difgunakan dalam berbagai realita kehidupan baik itu berkomunikasi dengan
mitra bisnis, dalam pergaulan, termasuk dalam pendidikan menengah maupun perguruan
tinggi.. Ini bertujuan mendorong generasi muda agar dapat berkembang dan mendapatkan
kualitas SDM yang siap menjadi penopang dan penerus bangsa. Sumber-sumber belajar di
era globalisasi ini pun cukup beragam. Dengan laju informasi seorang pelajar harus
menguasai litratur-literatur dari luar agar tidak tertinggal informasi.
Pemerolehan bahasa kedua biasa pula dikatakan sebagai pemerolehan bahasa yang
berlangsung dalam otak manusia ketika dia memperoleh bahasa ibunya. Ada 2 faktor dalam
penguasaan bahasa :


Proses Kompetensi
Kompetensi adalah penguasaan bahasa yang diperoleh tanpa disadari. ini kemudian
muncul proses perfomansi yang terdiri dari duahal, proses pemahaman dan proses
menghasilkan kalimat. Pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati atau
kemamapuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan menghasilkan kalimat
memerlukan kemampuan mengeluarkan kata-kata.

Proses Perfomansi

Bahasa ibunya serta pengalaman adalah salah factor yang membesarkan diri
seseorang. Identitas seperti suku, karakter, maupun perilaku lawan bicara dari bahasa yang
digunakannya adalah salah satu factor mengenal individu sesorang termasuk laki-laki dan
perempuan yang merupakan dua insan yang berbeda.
Karakter, perbedaan tempat, situasi, budaya dan gaya bahasanya dalam diri laki-laki
dan perempuan sangat berbeda. Selain itu penerimaan bahasa pula tentu berbeda. Oleh karena
itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penguasaan dan penerimaan bahasa asing pada
kedua gender tersebut. Penelitian ini menganalisa proses pelatihan selama 2 bulan dalam
program bahasa Inggris. Dalam penelitian ini, empat orang anak berusia 15-16 Tahun yang
yang terdiri dari dua orang laki dan dua orang perempuan sebagai objek terteliti.


B. Pembahasan
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data wawancara yang
dikumpulkan berupa skrip wawancara diolah dan disajikan dalam bentuk gambaran
(deskriptif). Responden pada penelitian ini adalah 4 orang siswa SMA IT Granada
Samarinda. Sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 4 orang yang terdiri dari dua lakilaki
dan dua perempuan yang berumur antara 15-16 tahun. Wawancara yang dilontarkan oleh
para responden dicatat atau direkam dengan menggunakan aplikasi rekaman. Topik yang
dibahas oleh responden adalah penguasaan bahasa Inggris berbasis gender dalam program
teachcast di SMA IT Granada. Teachcast adalah program unggulan SMA IT Granada dalam
hal pencapaian keterampilan berbahasa Inggris dengan pengajar dari negara luar.


Penguasaan bahasa Awal
Penguasaan bahasa Inggris awal responden hasil dari wawancara para narasumber
mengaku sejak SD sudah mempelajari bahasa Inggris. Ada satu responden baru mengenal
bahasa Inggris sejak kelas VII SMP. Namun secara umum para narasumber mengaku cukup
menguasai bahasa Inggris sebelum mengikuti program dalam pemerolehan bahasa Inggris ini.
Baik dari gender laki-laki maupun perempuan mengaku cukup mengenal bahasa Inggris
terutama dalam percakapan sederhana.


A : Prakteknya saya lumayan bagus. Saya dirumah sama kakak ngomong bahasa Inggris
N: Lumayan us, hehe
T: Dari SD lumayan bisa sih us
S: saya agak berbeda us. Bisa sedikit karena saya belajar dari SMP


Perasaan Narasumber
Suasana pembelajaran dan kondisi psikis yang baik mempengaruhi dalam
pemerolehan bahasa kedua. Dalam analisa peneliti didapatkan bahwa beberapa narasumber
menyatakan bahwa cukup senang dan menikmati program latihan berbahasa Inggris ini. Hal
ini cukup bagus dalam perkembangan penguasan bahasa kedua. Materi yang dekat dengan
kehidupan sehari-hari, penyajian materi yang seru diselingi dengan permainan serta nyanyian
membuat perasaan senang dalam mengikuti pembelajaran dibanding pembelajaran reguler
sekolah.


A : Enak saja saja us materinya tidak terlalu kompleks soalnya diiringi dengan game-game
begitu.
N: Lumayan us, jadi saya bisa sedikit-sedikit bisa komunikasi.
T: Seru miss nya asyik kalau kita salah itu ga apa. Miss nya itu selalu tanya kita jadi kita
paham Missnya selalu ngajak kita nyanyi biar kita semangat.
S: Setiap hari itu diajak main game. Tebak-tebak begitu. Yang saya rasakan itu lebih fun
dibanding sekolah. Sekolah reguler begitu di kelas.
Salah satu anak bergender laki-laki cenderung ragu dalam menjawab dan kurang
lugas menjelaskan ketika ditanya bagaimana perasaannya.
N: Lumayan us, jadi saya bisa sedikit-sedikit bisa komunikasi. Lebih PD (percaya diri)
sedikit ga malu-malu.


Peningkatan Keterampilan Berbahasa
B2 adalah bahasa yang diperoleh anak setelah mereka memperoleh bahasa lain.
Bahasa yang diperoleh kemudian itu disebut sebagai B2. Sesuai dengan hipotesis
kemampuanan dan pembelajaran yang dikemukakan oleh Krashen, kemampuanan B2
mengacu pada pembelajaran. dalam belajar bahasa berbagai macam keterampilan seperti
memahami, berbicara dan membaca. Peneliti ingin mendapatkan data pada narasumber
bagaimana kemajuan kemampuan mereka dalam mengikuti pelatihan bahasa Inggris.


A : Faktor vocabulary atau kosa katanya begitu lebih banyak. Lebih confident berbahasa
Inggris.
N : Lumayan us lebih ke komunikasi sih, jadi saya bisa sedikit-sedikit bisa komunikasi. Lebih
percaya diri. Lebih memahami tentang bahasa Inggris.
T: Lebih baik daripada sebelumnya kadang bahasa Inggris sering kebalik-balik ya, karena
teachcast ini kita lebih ingat buat nempatin kata-katanya. Lebih luas bahasanya jadi
terbiasa. Reading saya lebih bagus sih soalnya masuk terus disuruh baca. Speaking saya
juga sih. Karena missnya itu ngomong jangan takut coba.
S: Saya kan belajar dari SMP setelah saya pelan-pelan belajar dan memahami ternyata tidak
seriweh itu dan itu belum sebulan saya pelajari karena mungkin gurunya menjelaskan enjoy
jadi masuknya bagus begitu. Saya jadi tidak takut berbahasa apalagi hanya lingkup sekolah
dan circle saya.


Dalam hasil pengamatan dari skrip wawancara ke empat narasumber didapati bahwa
terdapat kemajuan dalam diri narasumber. Gender laki-laki mengaku lebih sedikit ada
peningkatan sedikit dalam berkomunikasi (A dan N). Gender laki-laki lebih percaya diri
dalam mengikuti program tersebut. Gender perempuan dari pemaparan lebih menjelaskan
bahwa (T) kemajuan ketika mengikuti program ini tidak hanya keterampilan berbicaranya
yang meningkat tetapi juga pemahaman, penempatan kata, dan juga kemampuan membaca.
Perempuan (S) yang memulai mempelajari bahasa Inggris dari SMP menyampaikan bahwa
proses pemahaman belajar tidak sesulit yang dia kira jadi menurutnya ketika hanya lingkup
sekolah dari segi komunikasi dia cukup percaya diri. ketika digali lebih lanjut dalam penerapan berbahasa di lingkup sekolah ke empat narasumber mengatakan demikian.


A : Siap saja us kalo saya insyaAllah. Kan zaman teknologi ini misalnya di game kan
suaranya sudah pakai bahasa Inggris jadi harus ngerti.
N :Lumayan us, jadi saya bisa sedikit2 bisa komunikasi. Lebih percaya diri. Kalo ada english
day ya mungkin curi-curi sih us. mau ga mau saya translate dulu ust baru saya ngomong ke
miss nya. Translatenya pakai google ust.
T : Ta Percaya diri asal jangan diketawain begitu kalo salah. Kalo untuk teman-teman (lingkup sekolah) saya pede sih us. S : Kita jadi terbiasa karena kita terbiasa. Subtansinya sama kayak Ta, cuman karena
speaking jadi lebih pede karena sering dengar dan cara ngomongnya lebih tahu.


Salah satu tujuan dibuatnya program tersebut adalah untuk mahir dalam berbahasa. Ketika
narasumber ditanya tentang bagaimana ketika penerapan berbahasa dalam lingkup sekolah
Gender Laki-laki (A) optimis percaya diri mampu menerapkannya. Dari skrip wawancara
Narasumber A mengatakan ada faktor lain yang membuat keterampilan berbahasanya akan
terasah yaitu bermain permainan daring. Narasumber (N) dari gender laki-laki mengatakan
cukup mampu berbahasa ketika penerapan di sekolah. Namun dari skrip wawancara peneliti
mendapatkan bahwa ada sedikit keraguan dalam kemampuannya. Itu dibuktikan dalam
percapakan bahwa ada kemungkinan untuk menggunakan alat bantu (Google Translate)
dalam Program English Day.
Berbeda dengan Gender Perempuan, Narasumber T percaya diri asalkan didukung oleh
lingkungan yang baik. Dari kutipan transkip wawancara ada rasa optimis dalam
penerapannya di sekolah. Gender S dari transkip wawancaranya ada optimis dan percaya diri
untuk mampu menerapkan bahasa Inggris dalam program English Day.
Faktor lain penguasaan
Terdapat faktor lain dalam penguasaan dan pemerolehan bahasa kedua dalam skrip
wawancara dari narasumber. Faktor lainnya adalah lingkungan rumah yang mendukung
pembelajaran bahasa Inggris. Salah satu narasumber dari gender laki-laki (A) dalam
penguasaanya berbahasa Inggris di dapat dari kebiasaanya berkomunikasi di rumah dengan
saudaranya. Komunikasi ini dilakukan hampir tiap saat pada waktu berkumpul dan
mengerjakan aktifitas di rumahnya. Faktor lainnya juga adalah permainan daring yang
dilakukan oleh narasumber A. Permainan ini menuntut untuk saling berkomunikasi dan tidak
hanya antar sesama orang Indonesia tetapi sesama orang yang ada di belahan bumi manapun.
Bahasa universal yang menyatukan seluruh manusia adalah bahasa Inggris. Untuk itu
permainan daring menjadi salah satu faktor pendukung dalam penguasaan dan pemerolehan
bahasa Inggris.
Narasumber gender perempuan (T dan S) mengutarakan pula faktor lain dalam penguasaan
adalah pembawaan dan gaya mengajar yang diterapkan oleh guru. Dengan gaya belajar yang
sesuai membuat siswa mampu menyerap dan menerima apa yang disampaikan oleh guru.
Termasuk dalam penguasaan dan pemerolehan bahasa Inggris.


Kesimpulan
Terdapat perbedaan signifikan dalam pemerolehan dan penguasaan pembelajaran bahasa
Inggris di SMA IT Granada antara gender laki-laki dan perempuan. Laki-laki cenderung
mengutarakan perasaannya dengan singkat dan cenderung tidak stabil .Berbeda dengan
gender perempuan, dalam mengikuti pembelajaran gender perempuan cenderung senang
mengikuti pembelajaran itu dilihat dari kelugasan saat menjawab bagaimana perasaan saat
mengikuti pembelajaran (asyik dan menyenangkan). Perasaan inilah yang menjadi salah satu
kunci penerimaan bahasa dalam mengikuti pembelajaran. suasana hati yang tepat akan
memudahkan transfer input bahasa terhadap pembelajar.
Dalam penguasaan keterampilan berbahasa gender laki-laki menguasai dan percaya diri
dalam hal keterampilan berbicara. Sedangkan gender perempuan tidak hanya percaya diri
dalam berbahasa, tetapi juga mampu memahami dari segi pemilihan kata dan letak kata
dalam struktur kalimat. Walaupun salah satu gender perempuan (S) belajar mulai dari SMP
tetapi ia mampu cepat belajar sehingga tidak tertinggal dari temannya yang lain.
Dari segi penerapan dalam keseharian para narasumber baik gender laki-laki maupun
perempuan mengungkapkan bahwa cukup percaya diri dalam berkomunikasi di lingkup
sekolah. Namun salah satu gender laki-laki mengaku akan menggunakan alat bantu (google
translate) untuk membantu berkomunikasi.
Terdapat pula faktor lain dalam pemerolehan bahasa Inggris di SMA IT Granada berdasarkan
4 narasumber. Pertama, Faktor lingkungan keluarga sangat membantu karena pembiasaan
berbahasa di rumah menjadi penopang dalam penguasaan bahasa. Kedua, adalah permainan
daring. Salah satu narasumber mengungkapkan dalam satu permainan menuntut untuk
berkomunikasi dalam bahasa Inggris hal itu menjadi penting karena pembelajar akan mulai
terbiasa berbahasa karena permainan tersebut. Dan yang ketiga adalah strategi guru.
Narasumber perempuan mengungkapkan penerapan strategi yang tepat yang membuat suasan
yang menyenangkan akan membuat percepatan transfer pemerolehan bahasa dalam program
teach cast di SMA IT Granada.


Daftar Pustaka

Fardischa, A. (2020). Pengaruh Tontonan Berbahasa Inggris Dalam Media Sosial YouTube Pada
Pemerolehan Bahasa Kedua Anak Umur Tujuh Tahun. Jurnal Pena Indonesia, 6(1), 51-61.
Krashen, S. D. (2003). Explorations in language acquisition and use.
Maharani, T., & Astuti, E. S. (2018). Pemerolehan bahasa kedua dan pengajaran bahasa dalam
pembelajaran BIPA. Jurnal Bahasa Lingua Scientia, 10(1), 121-142.
Purba, A. (2013). Peranan lingkungan bahasa dalam pemerolehan bahasa kedua. Pena: Jurnal
Pendidikan Bahasa dan Sastra, 2(2).
Ratminingsih, N. M. (2021). Metode dan strategi pembelajaran bahasa Inggris.
Setiyadi, A. C., & Salim, M. S. U. (2013). Pemerolehan bahasa kedua menurut Stephen Krashen. At-
Ta’dib, 8(2).
Sundari, H. (2015). Model-Model Pembelajaran dan Pemefolehan Bahasa Kedua/Asing. Jurnal
Pujangga, 1(2), 106-117
Syamsiyah, D. (2017). Analisis Deskriptif Teori Pemerolehan Bahasa Kedua. AL-MANAR: Jurnal
Komunikasi dan Pendidikan Islam, 6(2), 59-80.

Kategori: Granada