Oleh: Ismail Latisi, S.Pd (Wa.Ka Kurikulum SMA IT Granada)

Holocaust adalah salah satu aksi genosida terbesar diawal abad ke-19. Pembantaian masal terjadi kepada Komunitas Yahudi di seluruh wilayah Eropa yang diduduki Nazi Jerman.

Tercatat sekitar enam juta Yahudi (2/3 dari total populasi Yahudi di seluruh Eropa) dengan rincian sekitar satu juta anak, dua juta wanita dan tiga juta pria dewasa Yahudi tewas dibantai Nazi Jerman dibawah pimpinan Adolf Hitler kala itu.

Aksi genosida Nazi dalam peristiwa Holocaust ini dilakukan di hampir semua negara yang didudukinya yang jika dikonversi saat ini menjadi 35 negara Eropa yang terpisah. Pembantaian paling parah bagi bangsa Yahudi terjadi di kawasan Eropa Tengah dan Timur. Sekitar lima juta umat Yahudi dibunuh di sana, termasuk tiga juta di Polandia dan lebih dari satu juta di Uni Soviet. Ratusan ribu umat Yahudi juga tewas di Belanda, Prancis, Belgia, Yugoslavia dan Yunani.

Penyiksaan dan genosida dilakukan oleh Nazi dalam berbagai bentuk. Kamp-kamp konsentrasi didirikan sebagai pusat penahanan dan tempat penyiksaan bagi kaum Yahudi. Di sana mereka diharuskan melakukan kerja paksa hingga tewas akibat kelelahan fisik atau ditimpa penyakit tanpa diobati. Yang selamat dari kamp-kamp konsentrasi ini akan diarak ke kamp pemusnahan dimana mereka dibunuh di kamar-kamar yang berisi gas beracun.

Pemerintah Jerman secara sistemik terencana melakukan berbagai aksi rasial kepada kaum Yahudi. Kementerian Dalam Negeri Jerman menyediakan catatan kelahiran untuk mengidentifikasi seluruh keturunan Yahudi. Kantor Pos menyampaikan perintah deportasi dan denaturalisasi. Departemen Keuangan menyita dan merampas properti milik kaum Yahudi. Lembaga pemerintahan dan perusahaan swasta memecat pegawai-pegawai berdarah Yahudi. Universitas menolak mahasiswa dari kaum Yahudi, membatalkan gelar akademik mereka yang telah lulus serta memecat bahkan menembak mati para akademisi berkebangsaan Yahudi.

Perusahaan Farmasi Jerman tidak kalah kejam dalam peristiwa Holocaust ini. Mereka menjadikan orang-orang Yahudi sebagai subjek uji coba berbagai jenis obat-obatan. Dokter-dokter Jerman turut menjadikan Kaum Yahudi sebagai subjek eksperimen medisnya. Mereka menempatkan subjek dalam ruang bertekanan, melakukan pengujian obat-obatan, membekukan subyek, berusaha untuk mengubah warna mata dengan cara menyuntikkan bahan kimia ke dalam mata dan berbagai eksperimen lainnya. Amputasi dan berbagai bentuk operasi brutal menjadi bagian tak terpisahkan dari eksperimen medis ini. Yang selamat dalam eksperimen ini berakhir dengan dibunuh atau dibedah.

Masa-masa ini boleh jadi merupakan masa terburuk dalam sejarah kaum Yahudi bahkan mungkin merupakan masa yang lebih buruk bagi mereka jika dibandingkan dengan kehidupan nenek moyang mereka di masa Fir’aun dahulu (WaLLAHU a’lam).

Pasca kekalahan Nazi Jerman pada tahun 1945 di Perang Dunia II, kaum Yahudi yang selamat dari kamp-kamp konsentrasi atau yang bersembunyi tetap tidak dapat atau tidak mau kembali ke negara mereka disebabkan masih kuatnya sentimen antisemitisme pascaperang dan penghancuran komunitas mereka selama masa Holocaust terjadi. Banyak dari mereka yang mengkhawatirkan keselamatan jiwanya.

Kaum Yahudi dalam masa Holocaust hidup terkatung-katung diselimuti ketakutan akan bayang-bayang kebengisan Nazi. Mereka mencari perlindungan sebagai pengungsi di berbagai negara. Banyak negara termasuk negara-negara Eropa yang menolak kedatangan para pengungsi Yahudi ini dan mengusir mereka. Salah satu peristiwa pengusiran yang terkenal adalah insiden Kapal MS. St. Louis pada tahun 1939 yang membawa 907 pengungsi Yahudi. Mereka dipaksa kembali ke Eropa setelah ditolak Kuba, Kanada dan Amerika. Lebih dari 250 pengungsi kapal ini pada akhirnya tewas dalam peristiwa Holocaust.

Antara tahun 1945 – 1947 eksodus pengungsian Yahudi ke Palestina berlangsung. Pada tahun 1947, para pengungsi ini masuk ke wilayah Palestina mengharap belas kasihan dengan membentangkan spanduk bertuliskan, “The German destroyed our families and our homes – don’t destroy our hopes” (Jerman telah menghancurkan keluarga dan rumah-rumah kami, jangan hancurkan harapan kami).

Di Palestina para pengungsi ini mendapatkan makanan, perlindungan dan tempat tinggal dari penduduk setempat. Namun ironi terjadi, air susu dibalas dengan air tuba. Pada tanggal 14 Mei 1948, dengan dukungan Amerika dan Inggris serta pengesahan dari PBB para pengungsi Yahudi ini kemudian memproklamirkan berdirinya negara Israel di atas tanah milik bangsa Palestina tanpa menyebutkan batas wilayahnya.

Sejak saat itu, eksodus besar-besaran Yahudi di seluruh dunia masuk ke wilayah Palestina. Mereka mengusir, merampas properti penduduk asli Palestina dan bahkan membunuh rakyat Palestina secara brutal tanpa rasa kemanusiaan. Seolah-olah mereka lupa kepedihan peristiwa Holocaust yang pernah mereka alami beberapa waktu sebelumnya.

Mungkin inilah yang dimaksud Hitler dalam salah satu perkataannya pada masa-masa Holocaust, “I would have killed all the Jews of the world … but I kept some to show the world why I killed them” (Aku akan membunuh seluruh Yahudi di dunia … Namun aku sisakan sebagiannya untuk menunjukkan pada dunia alasan aku menghabisi mereka”).

(WaLLAHU musta’an)

#MenolakLupa
#SevePalestine
#GazaUnderAttack
#Holacaust

Categories: Granada